Rumah Syariah

Berita

Seminar Kepenulisan Rumah Syariah: Mengasah Nalar Kritis, Menyuarakan Gagasan Lewat Menulis Opini

Gambar 1: Ustaz Achmad Ibnu Ibad sebagai Pemateri Seminar

RSa Media, Kairo –Rumah Syariah bukan hanya menyediakan wadah untuk belajar ilmu syariat melainkan juga menyediakan ruang untuk mengembangkan kemampuan nonakademik, salah satunya di bidang kepenulisan. Pada Sabtu, 25 Juli 2026, Rumah Syariah mengadakan Seminar Kepenulisan yang mengusung tema “Mengasah Nalar Kritis, Menyuarakan Gagasan: Strategi Menulis Opini di Ruang Publik” di Rumah Juang, Darb al-Ahmar. Seminar ini juga merupakan salah satu program divisi Media dan Publikasi dalam rangka kaderisasi anggota baru Rumah Syariah angkatan 13 pusat dan angkatan 7 cabang.

Acara dimulai pukul 14.00 waktu setempat dan dibuka oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan oleh Ryan Lutfi Ajizi sebagai moderator. Materi seminar disampaikan oleh Ustaz Achmad Ibnu Ibad. Beliau merupakan kepala editor buletin Bedug tahun 2026. Beliau juga menjadi ketua Sifaratul Adab Kairo, editor situs web adabi.net, dan menjadi salah satu kontributor dalam antologi bersama “Panduan Menguhuni Kairo”. Beliau memulai dengan sebuah matsal berbahasa Arab yang berbunyi:

عقول الرجل تحت قلمه

Yang berarti akal seseorang bergantung pada apa yang ia tulis. Setelah itu, beliau menjelaskan struktur kepenulisan opini secara umum, dari judul, prolog, isi, hingga epilog, disertai penjelasan tiap poinnya secara runtut dan jelas. Dalam pemaparannya, beliau menambahkan juga mengenai jenis-jenis kalimat dan paragraf, serta memberikan contoh-contoh yang berada di situs web dan tulisan dari para peserta yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Sebelum mengakhiri sesi materi, beliau tak lupa melengkapinya dengan tips-tips menulis opini. Di antaranya, mengumpulkan referensi yang dapat diperoleh dari literatur atau studi kasus di lapangan secara langsung. Tips selanjutnya, membuat kerangka penulisan di tiap bagian tulisan opini agar ide tidak keluar dari yang dibicarakan dan mencegah penulis dari writer’s block atau tidak ada ide tiba-tiba. Setelah semua bekal terkumpul, penulis bisa mengeksekusi tulisan dengan menyusun premis-premis yang menghasilkan tesis hingga menjadi paragraf-paragraf yang padu. Kemudian, tulisan tersebut diendapkan beberapa waktu untuk diperiksa dan diperbaiki sebelum nantinya dipublikasikan.

Setelah penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta seminar. Bukan hanya itu, seminar kali ini terasa lebih berkesan karena ditutup dengan bedah opini dari tulisan para peserta dan dipilih 2 orang terbaik di antara mereka. Mereka adalah Ryan Lutfi Ajizi dengan judul opini “Menakar Kualitas dan Kuantitas Masisir” dan Luthfan Dzaky Al-Fathi dengan judul opini “Sekularisme pada Agama Islam, Perlukah?”. Ustaz Achmad memberi masukan dari segi ketepatan penggunaan kalimat, isi, kesinambungan antarkalimat dan paragraf. Para peserta begitu antusias karena selain mendapatkan teori, mereka juga berkesempatan untuk praktik secara langsung.

Memasuki penghujung acara, moderator menyampaikan kutipan dari Pramoedya Ananta Toer berbunyi,

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Maka, menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kegiatan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan untuk pemateri dan foto bersama. Dengan terselenggaranya seminar ini, semoga para peserta mampu mengasah nalar kritis serta berani menyuarakan gagasan melalui tulisan opini di ruang publik.

Reporter: Khairunnisa Ghina Syarifah

Editor: RSa Media

Scroll to Top