More

    Kisah Hikmah Dibalik Lemahnya Pendapat Imam Al-Farra’ Karena Tak Hafal Sebuah Riwayat

    Imam al- Farra’ bernama lengkap Yahya bin Ziyad bin Abdillah bin Masyhur al-Asadi al-Kufi al-Nahwi. Dikenal dengan Abu Zakaria Al-Farra’, seseorang yang menguasai beberapa bidang keilmuan terutama di bidang bahasa Arab. Lahir di Kufah pada tahun 144 Hijriah pada masa pemerintahan dinasti Abbasiah.

    Disebutkan dalam kitab al-Ansab karya Imam Al-Sam’ani bahwasanya julukan al-Farra’ tidak diambil dari daerah tempat tinggalnya, melainkan dinisbatkan kepada beliau lantaran ketika berbicara, beliau akan membaguskan tata bahasanya. Sehingga, menjadikan tutur ucapannya mudah dipahami.

    Maka dari itu, Kepiawaian al-Farra’ dalam ilmu bahasa menjadikan beliau murid terbaik imam al-Kisa’i, “Mahaguru nahwu dari kota Kufah”. Sehingga, ketika kita membaca kitab-kitab klasik nahwu, sering kita dapati nama beliau bertengger di jajaran Imam Sibawaih, Imam al-Kisa’i dan Imam Yunus dst.

    Kembali ke topik judul pembicaraan. Sebelum menyinggung nama al-Farra’, kita menengok terlebih dahulu dalam pembahasan Asma’ al-Khomsah atau Asma’ al-Sittah. Para Nahwiyyin menyuguhkan tiga macam i’rab. Pertama, al-Itmam, yaitu Rafa’ dengan tanda wawu. Nashob dengan tanda alif dan Jar dengan tanda ya’.

    Wajah i’rab yang kedua adalah al-Qasru. Yaitu Rafa’, Nashab dan Jar dengan menggunakan alamat alif. Sehingga, i’rabnya dikira-kirakan (muqaddarah). Dan yang ketiga adalah al-Naqsu, yaitu menjadikan alamat i’rab Rafa’, Nasab dan Jar dengan menggunakan harakat dzahirah.

    Selanjutnya, pada kalimat “Hanu” (هن). Para nahwiyyin hanya membolehkan dua wajah I’rab. Pertama dengan al-Naqsu. Dan yang kedua dengan menggunakan al-Itmam. Akan tetapi, para nahwiyyin mengunggulkan dengan I’rab al-Naqsu. Lantas demikian Imam Ibnu Malik berkata dalam nazamnya(8):

    أب أخ حم كذاك وهن # والنقص في هذا الأخير يحسن

    “Begitu pula Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tetapi I’rab Naqsh untuk yang terakhir (Hanu) adalah lebih baik”.

    Meskipun dimikan, Para ulama’ tetap membolehkan membaca dengan wajah I’rab Itmam pada kalimat Hanu. Meskipun hal itu sangat jarang sekali penggunaannya.

    Namun, Imam al-Farra’ mengingkari wajah I’rab Itmam pada kalimat Hanu. Kendati demikian, pendapat beliau tetap dianggap lemah. Lantaran pengingkaran beliau dikalahkan dengan bukti kuat, yaitu hafalnya Imam Sibawaih terhadap dialek orang Arab yang menggunakan I’rab al-Itmam pada kalimat Hanu.

    Maka dari itu, Imam Ibnu Aqil dalam karyanya mengatakan(8):

    وأنكر الفراء جواز إتمامه وهو محجوج بحكاية سيبويه الإتمام عن العرب ومن حفظ حجة على من لم يحفظ.

    Imam al-Farra’ mengingkari kebolehan I’rab dengan cara al-Itmam, akan tetapi dia dikalahkan dengan bukti nukilan Imam Sibawaih dari orang arab tentang kebolehan I’rab al-Itmam. Dan seseorang yang hafal menjadi Hujjah bagi orang yang tidak hafal”.

    Dari penggalan isi kitab di atas, dapat kita ambil sebuah pesan atau nasihat, terlebih bagi kita seorang penuntut ilmu. Nasihat tersebut berupa motivasi menghafal ketika belajar sebuah disiplin ilmu. Kita tidak mengingkari kebaikan yang terletak pada seseorang disaat belajar. Akan tetapi, lebih baik lagi jika dibarengi dengan menghafal disiplin ilmu tersebut.

    Oleh karena itu, belajar sekaligus menghafal, di samping dapat memahami materi lebih cepat, terdapat keberkahan yang tersimpan di dalamnya. Keberkahan tersebut terlihat ketika kita duduk bersama kawan semisal untuk membahas sebuah disiplin ilmu. Kita akan mampu menghadirkan masa’il ilmu lebih cepat dibanding dengan orang yang tidak hafal.

    Maka dari itu, ungkapan (Man Hafidza Hujjatun Ala­ Man lam Yahfadz) menjadi sebuah kaidah para ulama’ untuk mentarjih sebuah argumentasi yang berdasar pada sebuah riwayat. Hal itu tidak sebatas pada ilmu Nahwu saja, melainkan bisa kita temukan dalam ilmu-ilmu yang lain.

    KH. Baha’uddin Nur Salim, sapaan akrab (Gus Baha’) dalam sebuah kanal youtub, beliau menegaskan bahwa layaknya seoarang penuntut ilmu ketika belajar itu hafal materi yang dipelajarinya. Beliau juga menegaskan bahwa batas minimal yang dihafal adalah Matan terendah dalam level materi yang ia kaji. Semisal, ketika seseorang mempelajari ilmu Nahwu. Minimal ia harus hafal Ajrumiyyah. Kemudian dalam bidang fikih, minimal ia harus hafal Matan Abi Syuja’ atau Taqrib begitu seterusnya.

    Oleh karena itu, tidak asing lagi bagi kita bahwasanya menghafal matan menjadi sebuah budaya di pesantren-pesantren Indonesia. Tidak hanya itu, para Masyayikh al-Azhar sering kali menasehati para penuntut ilmu untuk mengaji sekaligus menghafalkan matan.

    Oleh : Ulul Albab Fatahillah

    Santri di Rumah Syariah sekaligus Ahbab Gus wildan & Kanjeng Sidi Al-Ustadz Ridha Al-Mahally.

    Stay in the Loop

    Get the daily email from CryptoNews that makes reading the news actually enjoyable. Join our mailing list to stay in the loop to stay informed, for free.

    [tds_leads input_placeholder="Your email address" btn_horiz_align="content-horiz-center" pp_checkbox="yes" pp_msg="SSd2ZSUyMHJlYWQlMjBhbmQlMjBhY2NlcHQlMjB0aGUlMjAlM0NhJTIwaHJlZiUzRCUyMiUyMyUyMiUzRVByaXZhY3klMjBQb2xpY3klM0MlMkZhJTNFLg==" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJkaXNwbGF5IjoiIn0sImxhbmRzY2FwZSI6eyJkaXNwbGF5IjoiIn0sImxhbmRzY2FwZV9tYXhfd2lkdGgiOjExNDAsImxhbmRzY2FwZV9taW5fd2lkdGgiOjEwMTksInBvcnRyYWl0Ijp7ImRpc3BsYXkiOiIifSwicG9ydHJhaXRfbWF4X3dpZHRoIjoxMDE4LCJwb3J0cmFpdF9taW5fd2lkdGgiOjc2OCwicGhvbmUiOnsiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwaG9uZV9tYXhfd2lkdGgiOjc2N30=" input_border="0" input_radius="eyJhbGwiOiI2cHggMCAwIDZweCIsImxhbmRzY2FwZSI6IjVweCAwIDAgNXB4IiwicG9ydHJhaXQiOiI1cHggMCAwIDVweCJ9" btn_bg="#10bf6b" btn_bg_h="#333237" f_btn_font_family="420" f_btn_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsImxhbmRzY2FwZSI6IjEyIiwicG9ydHJhaXQiOiIxMiJ9" f_btn_font_line_height="eyJhbGwiOiIzLjYiLCJsYW5kc2NhcGUiOiIzLjMiLCJwb3J0cmFpdCI6IjMuMyJ9" f_input_font_line_height="eyJhbGwiOiIzLjYiLCJsYW5kc2NhcGUiOiIzLjMiLCJwb3J0cmFpdCI6IjMuMyJ9" f_input_font_family="420" f_input_font_size="eyJhbGwiOiIxMyIsImxhbmRzY2FwZSI6IjEyIiwicG9ydHJhaXQiOiIxMiJ9" input_padd="eyJhbGwiOiIwIDE1cHggMXB4IiwibGFuZHNjYXBlIjoiMCAxM3B4IDFweCIsInBvcnRyYWl0IjoiMCAxMHB4IDFweCJ9" btn_padd="eyJhbGwiOiIwIDE1cHggMXB4IiwibGFuZHNjYXBlIjoiMCAxM3B4IDFweCIsInBvcnRyYWl0IjoiMCAxMHB4IDFweCJ9" btn_radius="eyJhbGwiOiIwIDZweCA2cHggMCIsImxhbmRzY2FwZSI6IjAgNXB4IDVweCAwIiwicG9ydHJhaXQiOiIwIDRweCA0cHggMCJ9" pp_check_color="#a0a0a0" pp_check_square="#000000" pp_check_border_color="rgba(16,191,107,0)" f_pp_font_family="420" pp_check_bg="rgba(255,255,255,0.6)" pp_check_size="eyJhbGwiOjE0LCJsYW5kc2NhcGUiOiIxMyIsInBvcnRyYWl0IjoiMTMifQ==" msg_composer="" f_title_font_family="420" msg_space="eyJsYW5kc2NhcGUiOiIwIDAgMTBweCIsInBvcnRyYWl0IjoiMCAwIDEwcHgifQ==" f_title_font_size="eyJsYW5kc2NhcGUiOiIxMCJ9" f_msg_font_size="eyJsYW5kc2NhcGUiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTAifQ==" f_pp_font_size="eyJsYW5kc2NhcGUiOiIxMCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTAifQ==" pp_space="eyJsYW5kc2NhcGUiOiIxNCIsInBvcnRyYWl0IjoiMTAifQ==" pp_check_color_a_h="#ffffff"]

    Latest stories

    - Advertisement - spot_img

    You might also like...