Rumah Syariah

Berita

Seminar KeAzharan; Mengenal Al-Azhar sebagai Jami’an wa Jamiatan

RSa Media, Kairo – Rumah Syariah mengadakan Seminar Keazharan pada Kamis, 24 September 2026 di Markas Besar, Darb al-Insiyah. Acara yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini diperuntukkan bagi anggota aktif Angkatan 13 Pusat dan 7 Cabang. Seminar ini bertujuan untuk mengenalkan Al-Azhar sebagai jami’an wa jamiatan.

Gambar 1: Ustaz Munawar Ahmad Shodikin, Lc., Dipl.

Husni Mubarak, sebagai pembawa acara kali ini membuka acara seminar dengan al-Fatihah, kemudian disusul dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Muhammad Rasyid. Sambutan dari Ustazah Nabila Amalia sebagai pembina pun turut mengiringi acara tersebut. Acara kemudian dipandu oleh Galih Azmi Moh.Yasin sebagai moderator. Ia menegaskan kepada peserta seminar untuk tidak sekadar  formalitas menuntut ilmu di Al-Azhar saja tanpa mengenal Al-Azhar lebih dalam karena seorang pemilik rumah harus lebih tahu bagian dan isi rumah tersebut daripada orang lain.

Al-Azhar, nama itu sudah tidak asing lagi di telinga kita sebagai salah satu poros keilmuan terbesar dan tertua di dunia. Al-Azhar bukan hanya sekadar institusi pendidikan; ia telah berdiri kokoh selama lebih dari satu milenium.

Seminar kali ini diisi oleh pemateri senior, yaitu Ustaz Munawar Ahmad Shodikin, Lc., Dipl. Beliau memulai materi dengan menyebutkan tahun Al-Azhar mulai dibangun, yaitu tahun 359 H, dan selesai pada 7 Ramadan 361 H. Masjid Al-Azhar akhirnya dibuka pertama kali untuk salat Jumat. Penamaan Al-Azhar sendiri berasal dari kata ‘zahira’ yang diubah menjadi isim sifat musyabbahah yang menjadi ‘Al-Azhar’ yang bisa dibawakan kepada dua makna: cemerlang dan berbunga.

Kemudian, Ustaz Munawar mengutip syair dari Imam al-Athar yang berbunyi: 

لازم إذا رمت الفضائل مسجدا • بشموس أنواع العلم تنورا

فيه رياض العلم أينع زهرها • فذلك المعنى تسمى الأزهرا

Syair ini mengandung harapan agar Al-Azhar terus cemerlang dan namanya dikenal seluruh dunia di kemudian hari. Ustaz Munawar juga menjelaskan bahwa Al-Azhar telah banyak melewati masa yang berbeda-beda dari segi sosial politiknya dengan kekuasaan dinasti yang berbeda-beda selama ratusan tahun; dari Dinasti Fatimiyyah (356 H–576 H), kemudian Dinasti Ayyubiyyah (567 H–648 H), Dinasti Mamalik (648 H–923 H), disusul oleh Dinasti Utsmaniyyah (923 H–1220 H), dan Dinasti Alawiyyah yang dinisbatkan kepada Muhammad Ali Pasha. Pada masa dinasti terakhir inilah, Al-Azhar memasuki era modern. Seiring berubahnya Mesir menjadi republik, Al-Azhar juga banyak mengalami perubahan.

Beliau melanjutkan, “Al-Azhar dibangun bersamaan dengan pembangunan Kairo saat al-Muiz beserta pasukannya datang karena mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi saat datang ke Madinah.” Bangunan pertama di masjid yang dibangun oleh Dinasti Fatimiyyah adalah Zhillah Fatimiyyah kemudian Zhillah Utsmaniyyah, dan diikuti bagian masjid yang lain seiring berjalannya waktu.

Pada saat Al-Azhar masih belia, banyak ulama dari mancanegara yang datang, di antaranya: Ibnu Khaldun, Ibnu Malik, Ibnu Mu’thi dan masih banyak lagi dari ulama mutaqaddimin. Pada awalnya, sistem pendidikan Al-Azhar tidak terikat pada satu sistem atau satu metode pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelajar pun bebas memilih gurunya di setiap tiang masjid. Dikatakan bahwa jumlah pengajar pada tahun 818 H mencapai 375 pengajar yang sesuai dengan jumlah tiang-tiang Masjid Al-Azhar itu sendiri.

Terdapat seleksi yang ketat bagi pengajar yang akan mengajar di Al-Azhar. Mereka diuji di hadapan para masyayikh dengan sebelas fan keilmuan; berupa nahu, saraf, ma’ani, bayan, badi’, mantik, tauhid, usul fikih, fikih, tafsir, dan hadis dengan sistem ujian yang detail. Selain itu, mereka disyaratkan telah mempelajari Jam’ul Jawami’ untuk ilmu usul fikih dan al-Mukhtashar karya Imam al-Taftazani untuk ilmu balagahnya. Al-Azhar baru berbentuk universitas pada abad 19 tepatnya diresmikan pada tahun 1961 M dengan berbagai perubahan sistem, jenjang dan istilahnya pada tahun-tahun sebelumnya.

Al-Azhar juga menaungi beberapa lembaga seperti: Majlis A’la, Hai’ah Kibar Ulama’, Majma’ Buhuts, Jami’ah al-Azhar, dan sekolah prakuliahan. Pada akhir materi, Ustaz Munawar memberikan tips yang memudahkan untuk mengenal al-Azhar yaitu dengan membaca biografi para imamnya dan orang-orang yang berkaitan dengan mereka sekaligus membaca karya-karya mereka.

Reporter: Zaidan Mahrus

Editor: RSa Media

Scroll to Top